Setelah menjalani puasa media sosial cukup lama. Perubahan yang aku rasakan adalah kualitas aktivitasku semakin meningkat. Aku menemukan keseruan dari aktivitas lain yang sebelumnya luput dari perhatian. Semakin jarang berinteraksi dengan HP dan semakin banyak melakukan aktivasi fisik yang sesungguhnya. Sampai aku merasa tak lagi ingin membuka media sosial dan merasa baik-baik saja serta cukup nyaman tanpa media sosial. Setelah itu muncul pertanyaan dalam diri, apakah media sosial yang aku punya lebih baik dihapus saja, toh selama 30 hari ini aku baik-baik saja ketika tidak menggunakannya? Beberapa kali pertanyaan itu muncul, tapi untuk bisa menjawabnya aku tidak benar-benar yakin dan menundanya. Aku merasa harus ada dorongan serta niat yang kuat untuk komitmen itu. Jangan sampai setelahnya malah membuatku menjadi seseorang yang lepas kendali karena terlalu maksakan diri untuk sesuatu yang boleh tapi aku melebelinya sebagai sesuatu yang terlarang. Dan efeknya akan jauh membuat candu serta merugikan diriku sendiri. Jika aku yakin dengan semua nilai dan kebaikan yang akan aku peroleh makan jalan untuk benar-benar komitmen akan jauh lebih terbuka untuk benar-benar minim menggunakan media sosial dan bijak dalam menggunakannya. Sebagai gantinya, saat ini aku berusaha untuk memperbaiki niat dan tujuanku dalam bermedia sosial. Aku menilai bahwa jejak digital di media sosial sangat mudah tersebar dan jika sudah tersebar luas akan sulit untuk dihapus. Dan akan sangat menarik jika pencarian media sosial bisa diisi oleh hal-hal positif yang semoga bermanfaat bagi orang lain untuk membacanya. Aku ingin mengambil bagian itu dengan media sosial yang aku miliki setidaknya memberikan porsi sedikit manfaat dari apa yang aku bagikan. Aku berharap semoga bisa menjadi amal jariah bagiku yang menulis serta menyebarkannya bagi orang lain. Aku sadar memiliki keterbatasan kapasitas sehingga tak ingin juga terlalu jauh menulis sesuatu yang tidak aku pahami dan merasa perlu memiliki aturan dalam membagikan tulisanku yang tentunya beriisi informasi yang tak lepas dari opini pribadiku. Berbagi sesuatu yang aku miliki walau mungkin tulisan sederhana atas pengalaman atau pengetahuan yang aku dapatkan dari proses belajar ku. Semoga kebaikan lain akan muncul dari sini dengan kualitas diri, amal, dan kebermanfaatan yang jauh lebih baik dari hari ke hari. Langkah ini aku lakukan sebagai upaya memilah milih hal yang sekiranya perlu dan tidak perlu untuk memperbaiki kualitas diri menjadi lebih baik. Semoga Allah mudahkan untuk terwujud menjadi nyata. Aamiin
Kamis, 27 Februari 2025
Challenge 30 Hari Tanpa Media Sosial?!
Pilihanku untuk berhenti media sosial selama 30 hari adalah pilihan terbaik yang aku buat. Sebelum benar-benar memulai, aku melakukan uji coba sekitar seminggu tidak membuka dan setelah seminggu aku membuka kembali media sosial. Kemudian membandingkan efeknya dan aku merasa membuka media sosial setelahnya membuatku merasa tak nyaman dengan berbagai berita yang terlihat dimenu pencarian. Membuatku merasa sedih melihat berita anak-anak yang mendapat perlakuan buruk dari orang-orang di sekitarnya. Aku sadar bahwa itu salah satu resiko buruk, terpapar dari berita negatif yang diposting oleh orang lain. Dan algoritma pencarian sesekali bisa terselip hal negatif di luar dari minat yang sering kita lihat dan cari. Akhirnya, setelah itu aku bener-bener berkomitmen untuk mencoba berhenti secara penuh selama 30 hari. Ditengah perjalanan sesekali muncul perasaan bosan dan ingin melihat akun-akun orang yang membuatku terkesan di media sosial. Tapi aku ingat bahwa 1 jam waktu yang aku gunakan untuk media sosial sangatlah berharga jika aku gunakan untuk hal lain seperti olahraga, masak, baca buku, bermain, membaca al-quran dan aktivitas berbobot lainnya.

Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar